Minggu, 06 Oktober 2013

CERMIN ITU MASIH BENING

Kumelihat bunga-bunga tersenyum manis pagi itu, menghiasi taman di sekeliling ruangan tempat aku bersila. Semilir angin pun sejuk menembus pori-pori dan menelusuk ke dalam ragaku. Aromanya mengalahkan bau obat-obatan yang mungkin dipakai di Rumah Sakit ini. Dan rasa kantukku pun hilanglah lenyap terbang jauh, sebab aku sungguh-sungguh berjaga malam ini, menanti kelahiran bayi Ibu Flova, isteri Pak Rio sahabatku. “Selamat pagi bang?” Sapa seorang perawat yang kebetulan lewat di depanku, membuyarkan fantasiku akan jernihnya tetesan air dari dedaudan di taman itu. Yang tadinya aku meringkuk, lekas berdiri dan membalas “selamat pagi juga Sus.”Aku pun menghadiahinya senyum andalanku, bersimpul penuh isyarat terbingkai. Di lorong depan masih kuperhatikan paras kecemasan yang tampak di permukaan wajah Pak Rio, yang mungkin karena Bu Flova isterinya hendak melahirkan anaknya yang keenam. Rasanya, dia khawatir akan nasib isterinya yang tidak melahirkan lagi setelah delapan tahun lalu Rini anaknya yang kelima lahir ke dunia yang sarat warna hidup ini. Dia berjalan mondar-mandir di lorong itu, dan pasti sambil mendaraskan doa dalam hati kecilnya. Doa itu menjadi media Pak Rio untuk menyapa Tuhan dan berharap dengan nyala doa itu, Tuhan sudi kiranya membantu Bu Flova pendamping hidupnya, di saat penting dan bersejarah untuk melahirkan anak keenamnya. Pak Rio senantiasa menganyomi keluarganya, berjuang lepas dari aneka konflik, berpaling dari suasana tegang, menghindar dari permusuhan, dan lari dari kebencian, maka tak heran, saat kubertemu dengannya, senyum bahagia selalu terpancar dari bibir pantunnya. Karena keramahannya yang acap kali membuat orang berdegung ria, maka tidaklah mengherankan keluarganya pun turut senang kepadanya. Kini segenap keluarga telah berkumpul semalaman, bermantel selimut, berkumpul di ruang tamu, dengan sabar dan bersiap-siap menyambut kedatangan bayi itu. Kutahu, sebelumnya kain gurita, kain lampin, kain sarung, dan baju buat si kecil telah disediakan sedemikian lengkap, agar kemunculannya sungguh memberikan warna yang baru dalam keluarga mereka. Tiba-tiba “Oa.., oa.., oaa..” Lentik suaranya bergema menyapa mereka yang berdiri di ruang persalinan dan yang duduk termenung, menatap anyelir dan sanggar yang berayun berdansa ria disebabkan angin meriuh. Litani bayi mungil itu menjamuri suara di telinga segenap keluarga yang ternganga lepas dari mimpi fatamorgana. Tadinya, karena mendengar merdunya lantunan suara bayi itu. Aku pun pergi dan duduk di bench di salah satu koridor di RS itu. Lalu aku duduk manis sambil menggenggam sebuah koran dan membacanya. Seraya membaca, aku memegang Rosario sambil berdoa bersama Bunda Maria berharap bayi itu dan Ibu Flova tetaplah sehat setelah proses persalinan. Aku hadir di situ untuk menunjukkan dan membingkai rasa kekeluargaanku bersama keluarga Pak Rio. Aku berpikir dengan kehadiranku, ungkapan cintaku akan keluarganya sedikit terasa. Pak Rio dan keluarganya adalah keluarga Muslim yang saleh, tawakal, dan sakinah. Aku mengenal mereka saat aku ditolong Pak Rio ketika terjerembab ke dalam sebuah parit di tepi rumahnya. Senyumnya yang menggambarkan kedamaian dan tutur sapanya yang ramah secara bersamaan menolong aku. Pelipis hatiku pun turut tersenyum disaat kulihat dia, hehehe. Aku adalah seorang jejaka SMA yang juga tukang ojek di kota ini, yang tak kenal keluarga darah seorang pun, maka hingga kini pun aku hidup sebatang kara. Aku memang pernah mencicipi rasa kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya, namun itu tidaklah berlangsung lama. Ketika umurku beranjak delapan tahun, Ibu kandungku telah menghadap kehadirat Bapa di surga. Tersiar rumor, ia sakit kanker teroid (pembengkakan kelenjar ludah), dan setidaknya itu yang aku ingat kata seorang Ibu waktu itu. Syahdan, kami adalah seorang Katolik, hingga kini akupun seorang Katolik, dengan maknanya yang universal, aku berharap dan berjuang menjadi saudara bagi sesama, tidak memandang ras, suku, bahkan agama yang akhir-akhir ini kerap menjadi sumber konflik. Hingga aku mengenal Pak Rio aku jauh memahami indahnya, damainya, sentosanya hidup dalam kerukunan beragama. Tuhan yang bersemayam di surga pasti dengarkan hamba-Nya yang berharap akan damai menghiasi dunia ciptaan terbaik-Nya ini. Di saat sedang asyiknya aku membaca koran tadi, aku mendengar suara bernotasi yang berseru memanggilku “Domi, Domi?” Akupun menoleh ke arah suara yang memanggilku itu, warna suara itu sudah akrab di telingaku, dan aku bisa memastikan itu adalah suara Pak Rio. Setelah mataku menemui raga tegap dan tingginya, aku membalas, “ iya Pak.” “Tolong kemarilah sebentar?” Ajaknya sambil tersenyum damai, persis ketika kami bertemu dulu. Aku pun bergegas bak seorang anak yang telah lama tidak bertemu induknya. “Ada apa ya Pak?” Tanyaku penuh keheranan, namun dalam hati bertutur pasti tentang si kecil nih. Aku menatap pipinya naik seolah-olah menggambarkan suasana keugaharian sambil meneteskan linangan air mata kegembiraan. “Bayi kami telah lahir Dom.” “Selamat dong Pak?” Sambungku penuh kegembiraan, sambil menjamah tangan kanannya, berisyarat, selamat, selamat, dan selamat. “Dia laki-laki dan gemuk serta tampak gagah seperti kamu.” Seloroh Pak Rio, yang membuatku sedikit tersenyum dan merasa tersanjung jauh di hati sepiku, menembus lorong asaku. Dan ikut kurasakan dinginnya udara pagi itu hingga nafas pun mengeluarkan gumpalan-gumpalan asap, dan aku teringat ketika anak-anak dulu, saat kuhembuskan nafas di suatu cermin, tampaklah berupa uap putih namun bening, dan hilang seketika. Aku lantas bertanya, “oh iya Pak, ngomong-ngomong kalau boleh tahu ntar siapa namanya ya Pak?” Dan kutatap juga bola mata cokelatnya sambil kuraih kantong depanku agar tanganku tidak turut kedinginan. “Setelah menimang, aku dan isteriku akan menyematkan nama anak kami sesuai dengan namamu, Dominikus.” Ungkapnya dengan aura kepastian, seakan-akan merasuki inti hatiku. “Oh ya? Itu kan ciri dari nama seorang Katolik? Kok bisa Pak?” Balasku dalam rona penjelasan dan nokta penuh keheranan. “Iya Dom, betul katamu itu. Maksudnya agar engkau menjadi cermin baginya kelak, dan kami mengharapkan engkau rela melihat jejak hidupnya, menasihati dia dalam bingkai kekeluargaan dan jadilah contoh yang baik!” Jelasnya dalam ketegaran namun lembut penyampaiannya. Aku pun menerawang dalam angan yang terbang ke perjalanan hidup yang telah aku lewati selama ini. Layakkah aku, pantaskah aku? Gumamku dalam gua perasaan bersandar di bilik hati yang telah bermantel cairan keragu-raguan ini. Kusadari kubelum pantas menganyam langkah hidupku seindah sulaman para seniman. “Ekhmm… Domi, yuk mari masuk ke dalam ?” Ajak Pak Rio, berusaha membuyarkan anganku yang mencipta tatapan kosong dari mata polosku. Kami pun masuk ke kamar Bu Flova yang telah beristirahat baik, dan tampak bayi mungilnya, digendong dengan hangat dan tulusnya oleh seorang perawat nan cantik jelita. “Eh Domi, mari mendekat ke sini?” Desah Bu Flova dengan penuh harapan terukir. Aku pun mendapatinya seraya berkata, “bagaimana keadaannya Bu?” Bibir manis Bu Flova pun bergerak dan berujar , aku sudah baikan Dom, dan syukur bayiku sehat juga kata Dokter dan para suster tadi. Awalnya aku sedikit ragu sih. Karena ragu dan cemas, lalu aku meminta agar bayiku dibawakan ke sampingku, dan memang aku melihatnya sungguh sehat.” “Hmmm, bagus dong Bu, selamat ya Ibu flova yang baik, hehehe .” Balasku sambil berpinta jauh di raga parodiku, kiranya bayi ini kelak menjadi orang baik. “Oh, maaf Dom, tolong ambilkan dulu cermin itu? “Pinta Bu Flova bertabur senyum. “Yang mana ya Bu?” Mataku bergerak bak radar mencari sinyal utama. “Yang di sebelah meja seberang, tergeletak bersampingan dengan buah apel.” “Ooo, itu rupanya.” Mulutku berbisik, dan lekas mengambilnya serta langsung memberinya ke tangan Bu Flova, dan dia menerimanya dengan sangat hati-hati. “Dom, Ibu hendak bertanya kepadamu, taukah kamu mengapa ibu menyuruh kamu mengambil cermin ini?” Tanyanya, dan kumelihat tatapan matanya menerawang jauh, dan aku tidaklah tahu entah dimana paradigmanya sekarang. “Tidak Bu, memangnya kenapa ya Bu?” Tanyaku penuh harap, dan keningku pun berkerut solah-olah memberi sinyal agar menanggapinya dengan serius. “Dulu, sebelum Ibu dan Bapak memutuskan menikah, aku sudah membeli cermin ini dari seorang tukang ojek karena aku diajak seorang teman untuk testing menjadi seorang model.” Dia menghela dan menarik nafas dan suaranya memberi melodi indah di telinga, entah kenapa aku pun tidak paham. “Cermin itu tampak kotor dan kusam, dan aku pun sesegera mungkin membersihkannya lalu melapisi bingkainya dengan cat vernis dari seorang tetangga. Tiba-tiba aku terhenyak bahwa di cermin itu aku tampak cantik dan anggun. Detak jantungku berdegup perlahan dan seiring waktu semakin kencang, karena kuteringat bahwa aku pernah menghujat Allah ketika kecil dulu, kenapa aku ini jelek seperti kata orang-orang di kampungku. Aku pun menyesal dan bertekad membahagiakan Allah dengan cara apapun, terlebih menyebarkan kasih dan damai bagi semua orang.” Jelasnya penuh keyakinan dan aku pun bertanya, “lalu Bu, apa yang terjadi dengan cermin ini?” “Aku melihat aura kepolosan di cermin bening ini, bening seolah-olah menyiratkan bahwa dengannya aku harus menjadi orang yang berhati bening. Setiap aku melahirkan , aku mengambil cermin itu dan melihat wajahku di dalamnya, apakah aku sudah tampak bening yang terlihat pada parasku? Kini aku sudah semakin tua, dan aku berniat tidak akan melahirkan lagi. Cukuplah ini kali terakhir aku melihatnya. Kini aku memberikannya buatmu seorang. Sebagai tanda bahwa cermin ini menjadi media buatmu melihat panorama dirimu, dan aku berharap kamu menjadi cermin bagi bayi kami ini yang namanya sudah kami putuskan ialah Dominikus, persis seperti namamu. Tebarkanlah damai bagi semua orang!” Aku pun terharu, dan sejenak berpikir, sungguh nyatalah ibu ini seorang Islam yang saleh, penebar damai seperti arti dari kata Islam itu. Dan kini aku bertugas menyebarkan pesan itu untuk semua orang secara universal sesuai dengan makna Katolik agamaku. Sungguh damai rasanya hidup bersaudara meski berbeda kepercayaan. Cermin itu tampak masih bening meski sudah lama dipakai. Karena cermin itu, Bu Flova bertransformasi dari prinsip yang telah ditanamnya sejak kecil bahwa dia tidak mencintai Allah, menjadi amat mencintai-Nya. Dan kini hingga selama-lamanya, aku berharap kedamaian tetap eksis tanpa pernah terbentur cobaan, bening bagi semua orang seperti cermin yang bening memperlihatkan bayangan setiap benda. Aku akan tetap menyimpan cermin ini, manatahu dengannya orang semakin melihat dirinya apakah masih kotor atau sudah transparan, terbuka bagi semua. Oleh: Sdr. Lambok Dtp.

Jumat, 18 Februari 2011

MENCARI MAKNA KEKERASAN

Sejenak kita mendengarkan kata kekerasan, pasti akan timbul rasa takut bukan? Hal ini wajar-wajar saja, karena kekerasan itu merupakan hal yang begitu kejam, sadis, dan tidak bermoral. Horns Valley dari Perancis mengatakan “Kekerasan itu merupakan tindakan yang melanggar agama”. Saya rasa bukan hanya agama, tetapi ada juga hal lain seperti hukum, kebiasaan baik, dan pendidikan. Dan juga kekerasan itu bersifat sadis, melanggar norma, dan menantang unsur-unsur kehidupan manusiawi. Kerap kali orang mengatakan kekerasan yang bersifat sadis hanya terjadi di IPDN, saya rasa hal ini sudah basi, karena bukan hanya di IPDN terjadi kekerasan. Baik itu rumah tangga, kampus, sekolah-sekolah Menengah Atas maupun SMP dan SD, bahkan di tengah-tengah masyarakat pasti terdapat hal yang berbau kekerasan.

Kekerasan di dunia ini telah berakar luas, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah bahkan sampai ke lingkungan luas. Hal ini dapat terjadi karena adanya beberapa hal yang yang mungkin terjadi, seperti:

1. Adanya kesalahan jiwa
2. Adanya sifat membalas dendam
3. Prestise
4. Jabatan
5. Pendidikan yang tegas
6. Kesabaran yang habis
7. Kesenangan yang semesta

Dari beberapa hal di atas dapat saya simpulkan bahwa, kekerasan terjadi dari hal hal yang bersifat manusiawi. Kerap kali, kekerasan itu terjadi di lingkungan keluarga dan sekolah. lihatlah di negara yang kita cinta ini, seringkali terjadi kekerasan kepada anak di bawah umur. Sebenarnya anak-anak itu dididik dengan penuh kasih sayang bukan dengan kekerasan. Jika hal ini terjadi secara meluas, boleh dikatakan akan banyak anak di bawah umur yang kerusakan mental maupun fisik.

Sekolah bukanlah mendidik kekerasan tetapi pendidikan yang berguna bagi nusa dan bangsa. Di samping itu, kita harus mengingat bahwa tidak selamanya kekerasan itu bersifat buruk ada juga yang bersifat baik, seperti: Dalam lingkungan penjara, napi yang begitu jahat pantas diberi kekerasan agar kelak ia berubah, dalam kekerasan juga dapat membuat seseorang menjadi disiplin, sopan, bermental baja.

Ada baiknya kekerasan itu dilakukan dalam hal-hal yang positif bukan ke dalam hal negatif, agar kita tidak terjerumus dalam kesengsaraan. Tetapi jika kekerasan itu bersifat hal yang negatif seperti menyiksa, membunuh, melecehkan, dan menodai, ada baiknya diperhatikan 3 sikap yang harus dikuasai agar tidak terjadinya kekerasan yang meluas, yakni:

1. Emosi

Ini merupakan sikap yang harus kita kuasai dalam hal mendidik. Emosional kita jangn digunakan pada hal yang kurang baik, kuasailah tingkah laku agar tidak diselubungi sikap apatis.

2. Kesabaran

Sabarlah dalam suatu hal, jika kita sabar pasti akan berhasil mendidik, jangan terlalu terbawa aura jiwa, apalagi jiwa-jiwa yang masih muda, pasti akan mudah marah atau emosi. Sebaliknya kita harus sabar baik itu dalam hal yang buruk sekali pun.

3. Rela berkorban

Jika kita adalah seorang manusia bermoral, pasti akan memiliki rasa kasihan, atau rela berkorban. Sebaliknya hal ini dilakukan agar tidak terjadi kekerasan,

Jika kita menguasai 3 hal di atas pasti akan terjadi kedamaian bukan kesengsaraan.





By: Lambok D Tampubolon

Probatorium A 2
007/2008

Senin, 07 Februari 2011

Kaum Muda Yang Konsumtif

Jika kita mengingat ungkapan Descartes, “aku berpikir maka aku ada!” menjadi sebuah kebanggaan dan wujud penegasan eksistensi manusia berdasarkan rasionalitas. Saat ini, yang mendominasi adalah, “aku berbelanja, maka aku ada!” sebuah peneguhan eksistensial yang kadang tanpa dasar nalar. Kapitalisme pasar memebentuk manusia menjadi makhluk ekonomi sebagai satu-satunya dimensi kehidupannya. Tentu saja, kemudian hubungan sosial antarsesama manusia sarat dengan simbol dan logika ekonomi.

Salam damai sejahtera bagi kita semua,
Yang saya hormati bapak dan ibu guru sekalian, dewan juri, serta yang saya banggakan saudara seminaris sekalian.
Pada kesempatan ini, pantaslah kita menghaturkan syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa, sebab Dia telah memberi kita kesehatan serta kesempatan di saat yang berbahagia ini.
Tempora mutantur et nos mutamur ini illis, ‘waktu berubah dan kita pun berubah seiring dengannya.’ Falsafah ini selalu berkutat dalam pribadi kita. Saya cukup yakin akan persepsi itu. Pada era globalisasi dewasa ini yang mana kita mengetahui begitu dahsyatnya perkembangan IPTEK, budaya masyarakat, dan perilaku sosial, membentuk berbagai problem yang signifikan di hadapan kita. Pada kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan segelintir di antara banyaknya problem-problem itu, yakni tentang Kaum Muda yang Konsumtif. Sebenarnya apa itu konsumtif? Konsumtif adalah ideologi yang menjadikan seseorang membeli barang atau menggunakan jasa secara berlebihan, yang belakangan ini menjadi isu nasional dan kerap kali dibahas berbagai tokoh dan dipublikasikan melalui media massa. Mengapa saya mengangkat tema ini?
Para hadirin yang terhormat, kita tahu bahwa seminaris itu adalah bibit unggul, hidup dalam ruang lingkup yang hidup dengan berbagai peraturan yang membangun, yang diyakini akan membentuk pribadi yang utuh, berintelektual, emosional, daya tahan, dan spritual yang baik. Kita boleh saja sedikit berbangga akan semua itu. Berdasarkan paradigma saya, seminaris itu memiliki satu titik kelemahan yang menakutkan. Apa itu? Saya sangat yakin, ketika seminaris memiliki uang atau dalam artian berhadapan dengan uang, pasti tidak dapat menguasai diri untuk membeli dan terus membeli. Hal ini sedikit terbukti dengan penghasilan koperasi kita yang semakin naik dari tahun ke tahun, bahkan yang mendominasi perbelanjaan kita adalah makanan ringan.
Para hadirin yang tercinta, sebenarnya bukan itu saja yang menampakkan bahwa seminaris itu konsumtif. Contoh lain, banyak di antara kita kerap kali membeli pakaian, aksesoris-aksesoris, yang tidak terlalu dibutuhkan. Sebenarnya ini hendak mengatakan apa? Kita tahu bahwa kita tidak berasal dari latar belakang keluarga yang sama, tapi mengapa hal ini terjadi? Kita kembali melihat pada kemajuan zaman, kita kaum muda pada umumnya, dan seminaris khususnya berada pada posisi subordinat (posisi lebih rendah). Artinya kita mudah terpengaruh terhadap apapun yang terjadi.
Berdasarkan hasil penelitian saya di suatu sekolah, sebanyak 40,6 % dari responden yang terpilih terjerumus ke dalam arus konsumerisme. Saya hendak mengatakan kepada saudara-saudari sekalian dan secara khusus kepada seminaris bahwa ekonomi kita masih terbatas, apalagi hidup berasrama, mencari uang Rp 1000,- pun sangast sulit, maka dari itu jadilah kaum muda yang terarah, hemat, berpendidikan, dan peka terhadap ekonomi keluarga kita. Agar kita terbentuk menjadi peribadi yang baik dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Kaum muda itu cenderung ingin menikmati sesuatu yang baru, mutakhir, indah dan instan. Maka kita harus punya sifat selektif. Kita harus berpikir kritis dalam mengambil keputusan, terutama dalam membeli sesuatu. Agar tidak semakin merajalelanya kita dalam menggunakan uang yang diberikan orangtua kita.
Bagi sebagian orang yang mampu secara ekonomi, hal yang menjadi kebiasaan seseorang untuk berperilaku konsumtif yang menjadi gaya hidupnya tidaklah masalah. Bahkan salah satu cara untuk mengikuti perkembangan zaman. Namun tidaklah demikian dengan kaum muda atau kita seminaris yang kurang mampu secara ekonomis. Baiklah kita memperhatikan situasi ekonomi sesama kita. Janganlah lagi kita terlalu sering jajan jajanan karena memang ini tidaklah hal yang betul-betul dibutuhkan agar tercipta cita-cita seminari ini untuk membentuk kaum muda yang siap berkarya dimana pun berada.
Setiap kaum muda memiliki cara hidup masing-masing, baik dalam belajar, bersosial, maupun mengatur hidup diri sendiri demi menunjukkan kekhasan masing-masing. kaum muda sekarang memiliki jiwa pengetahuan yang begitu berpotensial dari sebelumnya. Maka be your self , dan ingat jauhkan diri dari hidup boros, pekalah terhadap sesama. Youth is foer tomorrow.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan, akhir kata semoga pidato ini bermanfaat bagi kita semua. Jika terdapat kalimat yang salah saya minta maaf dan terima kasih.





Dominiq
Poe 10/11

Sikap Mencintai Sesama

OPINI




“Omnia vincit amor,” cinta mengalahkan segalanya. Falsafah ini bukanlah bualan belaka, melainkan dasar hidup yang mengandung sarat makna. Banyak orang yang memaknai cinta dengan berbagai paradigma dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, ini merupakan hal yang lumrah karena tidak secuil manusia merasakan kesuksesan maupun kebahagiaan dari cinta. Cinta adalah perasaan kasih dan sayang, perasaan ini bukan hanya tertuju bagi lawan jenis melainkan bagi semua makhluk hidup.
Kita setiap individu memiliki eksistensi yang sama baik dalam hak dan kewajiban, kita terbentuk dari ajaran, moral, dan tradisi masyarakat masing-masing. Kita diajarkan untuk mencintai sesama kita tanpa pandang bulu, tanpa melaukan diskriminasi menurut aliran pikiran kita masing-masing. Kini sikap mencintai sesama bagi kalangan seminaris sudah luntur, kita menganggap teman di sekitar kita hanya sebagai kenalan belaka bak seiring bertukar jalan seia bertukar sebut, meskipun bersama tetapi lain tujuan. Kerap kali terjadi kontak yang tidak harmonis antara seminaris, baik desebabkan oleh masalah sepele berupa omongan hingga yang terasa familiar layaknya berantam. Ini menandakan sikap mencintai sesama yang seperjuangan dengan kita sekali pun hampir punah. Berpijak dari situasi ini, kita disarankan untuk kembali pada keadaan yang sesuai berdasarkan moral yang diajarkan sebelumnya yaitu mencintai sesama, baik teman seangkatan, abang kelas, para staff, dan lain sebagainya. Kita seminaris diharapkan untuk tidak memiliki teman yang sama setiap saat, supaya terjalin kasih persaudaraan yang sepadan. Berkutatlah dengan ungkapan “I am for the people but not the people form me”, supaya kita tidak selalu mengandalkan ego melainkan mengandalkan cinta yang konkret.
Tumbuh kembangkanlah sikap mencintai bagi sesama tanpa pandang bulu, walaupun dia musuh kita, karena kita diajarkan untuk mencintai musuh kita, bahkan mendoakannya. Memang berat untuk melaksanakan sikap mencintai kita terhadap sesama. Berikut hal yang mungkin bisa membantu kita untuk menerbitkan kasih sayang kita.

1. Bersikap Adil
Memberikan sesuai dengan apa yang merupakan hak seseorang. Meskipun dia bukanlah satu keluarga, marga, daerah, strata kita, kita diajarkan untuk tidak melakukan tindakan separatis. Tertujulah bagi orang yang benar, namun maafkan sekaligus hormatilah orang-orang yang bersalah.

2. Mengaktifkan Wirasa dan Wiraga
Dengan memacu perasaan dan tindakan, kita pasti mampu mencintai sesama, seperti mencintai diri kita sendiri. Bukan membuat orang tertekan batin, takut, gugup, dsb. Cintailah dia berdasarkan kasih suci dan kemuliaan hati.




3. Mengedepankan Sikap Menghormati
Bukan gengsi yang diharapkan terjadi pada diri seminaris melainkan menghormati sesama, jangan karena muncul sikap superioritas dan prestise kita menomorduakan yang di bawah umur kita.

Adalah baik untuk mengaplikasikan itu semua dalam kebersamaan kita, saya harap ini menjadi secuil sumbangsih untuk kembali mendapatkan iluminasi yang berguna dalam perkembangan EQ kita.

Dominiq

Syn ‘10

Di Dipar Melambai Kejora

bertapak di lorong juma
disapa rerumputan melambai sayup
entahlah itu mengalirkan sesuap cinta
bagi pengembara terbang jauh
tinggalkan setapak tanda persahabatan



padahal beta melambai kehijauannya
sebelum merangkak ke negeri seberang
tuk bentangkan jerih pengorbanan
jumaku yang hasilkan berbagai rempah



maaf rindumu aku tangiskan
di sekumpulan kata-kata sedih
s’bab ku harus katakan
selamat berpisah. . .
juaku kan mimpikan kenangan kita



Oh, juma ladang roda pedatiku
t’rimakasih iba ini haturkan
ku janji akan sampaikan salam
hangatku bagimu sebidang
di dipar melambai kejora




Dominiq

Januari 2011

Sebilah Harap Dengan Podah

nasihat podah lentikkan telapak timah
melangkah sungsah berpijak salah
hiasi bingkai raga yang berserah
ini takdir terminum di waduk asa



kuiringi salib ini dengan bisikan
terasa mbeling karena tak beriak tegar
anggap lenggana s’bab tak ada embun
iluminasikan hidupku rasa dipingkal
yang gigi kawat di tepi insan



cukuplah podah itu bersuka di relung gua
kini tak tahan aku semua perih
ku ingin juang pantang bertangga
tercibir meski tak b’ri
sebilah harap



masih berjuang. . .
demi kesempurnaan panggilan
moga dayung di arus dengan kayuh podah itu
mengalir deras








Dominiq
Desember 2010

Pigura Parasmu Di Asaku

Temu di 3-sem sapaan kita
lentikkan manis di pipi pusakamu
gemulaikan alis di tepi pelipis ikal
semua argumeni pesona auramu



Lagi kau tak jemu tatapku
dengan intipan lihatmu yang menderuh
buat bibir ini ternganga keheranan
di balik jeruji kesungguhan rasa
rasa yang cipta sakura mekar
s’bab parasmu colek insan yang dina



terhirup pula di barisan rambutmu wewangi
sadurkan aroma pati semata lega
gilaskan cinta di fikir
s’bab udara segan melintas lantai bak beradu



tak semu tapi ini realita
s’mua terangkai di bandara suka
dan tak terlupakan
bahkan hingga hayat disapa
itulah pigura parasmu di asaku








Dominiq
Februari 2011