Senin, 07 Februari 2011

Sikap Mencintai Sesama

OPINI




“Omnia vincit amor,” cinta mengalahkan segalanya. Falsafah ini bukanlah bualan belaka, melainkan dasar hidup yang mengandung sarat makna. Banyak orang yang memaknai cinta dengan berbagai paradigma dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, ini merupakan hal yang lumrah karena tidak secuil manusia merasakan kesuksesan maupun kebahagiaan dari cinta. Cinta adalah perasaan kasih dan sayang, perasaan ini bukan hanya tertuju bagi lawan jenis melainkan bagi semua makhluk hidup.
Kita setiap individu memiliki eksistensi yang sama baik dalam hak dan kewajiban, kita terbentuk dari ajaran, moral, dan tradisi masyarakat masing-masing. Kita diajarkan untuk mencintai sesama kita tanpa pandang bulu, tanpa melaukan diskriminasi menurut aliran pikiran kita masing-masing. Kini sikap mencintai sesama bagi kalangan seminaris sudah luntur, kita menganggap teman di sekitar kita hanya sebagai kenalan belaka bak seiring bertukar jalan seia bertukar sebut, meskipun bersama tetapi lain tujuan. Kerap kali terjadi kontak yang tidak harmonis antara seminaris, baik desebabkan oleh masalah sepele berupa omongan hingga yang terasa familiar layaknya berantam. Ini menandakan sikap mencintai sesama yang seperjuangan dengan kita sekali pun hampir punah. Berpijak dari situasi ini, kita disarankan untuk kembali pada keadaan yang sesuai berdasarkan moral yang diajarkan sebelumnya yaitu mencintai sesama, baik teman seangkatan, abang kelas, para staff, dan lain sebagainya. Kita seminaris diharapkan untuk tidak memiliki teman yang sama setiap saat, supaya terjalin kasih persaudaraan yang sepadan. Berkutatlah dengan ungkapan “I am for the people but not the people form me”, supaya kita tidak selalu mengandalkan ego melainkan mengandalkan cinta yang konkret.
Tumbuh kembangkanlah sikap mencintai bagi sesama tanpa pandang bulu, walaupun dia musuh kita, karena kita diajarkan untuk mencintai musuh kita, bahkan mendoakannya. Memang berat untuk melaksanakan sikap mencintai kita terhadap sesama. Berikut hal yang mungkin bisa membantu kita untuk menerbitkan kasih sayang kita.

1. Bersikap Adil
Memberikan sesuai dengan apa yang merupakan hak seseorang. Meskipun dia bukanlah satu keluarga, marga, daerah, strata kita, kita diajarkan untuk tidak melakukan tindakan separatis. Tertujulah bagi orang yang benar, namun maafkan sekaligus hormatilah orang-orang yang bersalah.

2. Mengaktifkan Wirasa dan Wiraga
Dengan memacu perasaan dan tindakan, kita pasti mampu mencintai sesama, seperti mencintai diri kita sendiri. Bukan membuat orang tertekan batin, takut, gugup, dsb. Cintailah dia berdasarkan kasih suci dan kemuliaan hati.




3. Mengedepankan Sikap Menghormati
Bukan gengsi yang diharapkan terjadi pada diri seminaris melainkan menghormati sesama, jangan karena muncul sikap superioritas dan prestise kita menomorduakan yang di bawah umur kita.

Adalah baik untuk mengaplikasikan itu semua dalam kebersamaan kita, saya harap ini menjadi secuil sumbangsih untuk kembali mendapatkan iluminasi yang berguna dalam perkembangan EQ kita.

Dominiq

Syn ‘10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar